facebook : spiritual milenial IG : @spiritual_jowo Twitter: https://twitter.com/MasZen90?t=Wlir0KA5rdQ-S5KZMCYAbw&s=09 Konsultasi Spiritual Siap membantu menuntaskan Berbagai Problem Anda Seperti : *Pengasihan *Penglarisan usaha *Penyembuhan santet *Buka aura *Pemikat *Pagar ghaib *Pemagaran rumah, kantor, pabrik *Dll SilahKan Konsultasi by WA : ☎️ 085731468900 Terima Kasih
Jumat, 17 Desember 2021
berbagi
Selasa, 30 November 2021
Arti mimpi versi saya
Minggu, 28 November 2021
COROKO WALIK
Jumat, 26 November 2021
azimat pemagaran
Disini kita harus percaya pada tuhan, bahwa kita tidak menyekutukan tuhan, tapi kita minta barokah dan karomah keselamatan melalui doa dan ayat yang kita baca. Selain itu karomah doa dan khasiatnya di salurkan melalui benda bertuah atau benda gaib yang kita pasang di rumah kita.
Pagar gaib untuk rumah, adalah pagar gaib dan karomah doa untuk melindungi rumah dari berbagai gangguan dan serangan ghaib, yaitu meliputi santet, teluh, tenung, bego genjang, pramaya dan berbagai serangan jahat lain, selain perlindungan dari gangguan luar, bisa juga untuk melindungi dari serangan makhluk halus yang jahat dan suka mengganggu istri, keluarga dan anak anda.
Menghindari pencurian, penjarahan, kebakaran baik yang di sengaja ataupun tidak di sengaja, insyaallah rumah atau tempat usaha anda akan aman. Selain itu mampu mengusir makhluk halus yang tinggal di tempat anda atau di rumah anda. Dengan azimat pagar rumah dari kami, maka jin dan makhluk halus lainnya yang mengganggu rumah atau tempat tinggal anda akan pergi dan tidak akan kembali mengganggu anda.
Azimat pagar rumah ini bisa dipakai untuk semua jenis agama, baik yang beragama islam, Kristen, katolik, konghucu, budha ataupun hindu. Semua agama boleh memakai azimat pagar rumah ini.
Dari kami nanti sudah di sediakan azimat dan doa nya, anda tinggal pakai saja. Tidak perlu ritual yang berat berat lagi. Anda tinggal siapkan saja dan pasang di lokasi rumah anda atau rumah kantor anda.
Jasa pagar rumah yang kami berikan adalah jenis pager segoro ( pagar lautan ), atau bisa juga pager macan ( pagar macan ). Selain itu juga bisa melindungi penghuni rumah dari serangan gaib ataupun serangan jin setan yang jahat. Orang yang berniat mencuri atau berniat jahat di tempat atau di lokasi anda akan jadi kebingungan dan tersesat putar putar saja di tempat anda.
Syarat yang perlu anda sertakan saat memesan produk ini adalah, anda mencantumkan alamat lengkap rumah yang anda pasangi pagar ini. Nanti kami rituali jarak jauh dari tempat kami. Setelah jadi, maka azimat pagar rumah ini akan kami kirimkan ke alamat anda. Menggunakan pos atau tiki.
Mahar ikhlas azimat pagar rumah ( APR ) ini adalah Rp. 1500.000
Kode pemesanan produk azimat pagar rumah ini adalah APR.
Bagi anda yang berprofesi pengusaha, pemilik rumah kost ataupun perorangan, bila anda membutuhkan bantuan dalam hal pagar rumah, saya siap membantu anda. Selain itu, saya juga melayani pemagaran gaib rumah pribadi, kantor ataupun rumah sewa anda. Insyaallah semua jadi kembali normal dan baik, semua serangan dari musuh dan orang yang tidak suka akan kembali lagi dan mental pada pengirim nya.
Sekali lagi, produk azimat pagar rumah dan tempat usaha ini, aman dan tanpa tumbal atau tanpa efek samping ke pemakai nya, tidak perlu tumbal atau sesaji, anda tinggal pakai saja, kami yang rituali semua nya.
TASBIH BER ENERJI
Ajian perukun rumah tangga
Ajian/susuk Penguncian(Perukun Rumah Tangga)
Kamis, 25 November 2021
Pelarisan usaha
Penglarisan Usaha yang kami tawarkan adalah produk layanan spiritual untuk mempercepat penjualan apa saja (tanah/ rumah/ mobil/ dsb) agar segera laku terjual dengan harga bagus, deteksi tempat usaha, datangkan hoki agar cepat dapat keuntungan.
Penglarisan Usaha memberi solusi mempercepat bayar Hutang, menarik rejeki dari segala penjuru mata angin, rejeki yang tadinya seret/ macet akan lancar kembali, rejeki akan datang dari dengan sendirinya tanpa bisa diduga, laksana air mengalir yang tiada henti, datangkan harta dunia.
DAFTAR RAJA-RAJA JAWA
*** DAFTAR RAJA-RAJA JAWA VERSI FANTASI DAN VERSI HISTORI ***
Sejarah raja-raja Jawa ada dua versi, demikian menurut pendapat saya. Mengapa demikian? Ambil saja contoh pendiri Kerajaan Majapahit ada yang menyebut Jaka Sesuruh, ada pula yang menyebut Raden Wijaya. Maka, saya pun menggunakan istilah “versi fantasi” dan “versi histori”. Sengaja saya tidak memakai istilah “fiksi” dan “non-fiksi”, karena itu akan berakibat pada penghakiman bahwa versi ini benar-benar terjadi, sedangkan versi yang satunya adalah palsu belaka.
Sejarah raja-raja Jawa versi fantasi saya rangkum dari kitab seri Pustakaraja Purwa-Madya-Antara-Wasana yang disusun oleh Ngabehi Ranggawarsita, pujangga Kasunanan Surakarta. Saya katakan di sini bahwa Ngabehi Ranggawarsita bukan mengarang kisah panjang lebar ini, tetapi ia mengembangkan dari naskah yang sudah ada, yaitu Babad Tanah Jawi karya pujangga sebelumnya, yaitu Ki Carik Braja, yang juga mengembangkannya dari naskah tulisan Pangeran Adilangu.
Sementara itu, sejarah raja-raja Jawa versi histori saya ambil dari sumber-sumber prasasti peninggalan raja yang bersangkutan, serta naskah tulisan para rangkawi, terutama Nagarakrtagama dan Pararaton.
==== RAJA-RAJA JAWA VERSI FANTASI ====
Prabu Ajisaka raja Surati kalah perang dan mengganti namanya menjadi Empu Sengkala, lalu pergi bertapa di Pulau Jawa yang saat itu masih dihuni kaum bekasakan, belum ada penduduk manusia. Di Jawa ia menciptakan Kalender Saka yang dimulai dari hari kedatangannya. Pada tahun 6 ia didatangi Pandita Usmanaji (gurunya) yang ditugasi Sultan Rum untuk menumbali Tanah Jawa supaya lebih aman dan bisa ditinggali manusia. Mereka lalu bekerja sama memasang tumbal di segenap penjuru Pulau Jawa. Pada tahun 9 Empu Sengkala menghadap Sultan Rum dan ditugasi memimpin pengisian Pulau Jawa dengan penduduk manusia. Karena rakyat Rum tidak cocok dengan kondisi alam Nusantara, maka Empu Sengkala pun mengambil rakyat Keling (Hindustan) sebagai penghuni Tanah Jawa. Setelah tugasnya selesai, Empu Sengkala pergi bertapa di Tanah Lulmat (alam gaib di Kutub Utara), di mana ia memperoleh anugerah panjang umur dan awet muda. Berikut adalah daftar raja-raja Jawa dengan angka tahun menggunakan kalender Candrasengkala.
104 : Batara Guru yang menjelma sebagai Resi Mahadewa Buda datang ke Jawa untuk mengajarkan agama.
144 : Batara Guru mendirikan kerajaan pertama di Jawa bernama Medang Kamulan. Sebagai raja ia bergelar Sri Padukaraja Mahadewa Buda.
174 : Batara Guru kembali ke Kahyangan Jonggringsalaka di Pegunungan Himalaya.
175 : Kelima putra Batara Guru datang ke Nusantara untuk membangun kerajaan. Batara Sambu bergelar Sri Maharaja Maldewa, membangun Medang Prawa di Sumatra. Batara Brama bergelar Sri Maharaja Sunda, membangun Medang Gili di Jawa barat. Batara Indra bergelar Sri Maharaja Sakra, membangun Medang Gana di Jawa timur. Batara Bayu bergelar Sri Maharaja Bima, membangun Medang Gora di Bali. Batara Wisnu bergelar Sri Maharaja Suman, membangun Medang Pura di Jawa tengah.
200 : Keponakan Batara Guru yang bernama Batara Siwah (putra Batara Ismaya) mendirikan Medang Siwanda, bergelar Sri Maharaja Balya. Satu persatu putra-putra Batara Guru meninggalkan Jawa karena kalah wibawa, kecuali Batara Indra yang bergelar Batara Surapati, mengubah Kerajaan Medang Gana menjadi Kahyangan Suralaya.
212 : Batara Kala (putra keenam Batara Guru) bergabung dengan Sri Maharaja Balya di Medang Siwanda, memakai gelar Patih Siwandakara.
226 : Sri Maharaja Balya dan Patih Siwandakara hendak menyerang Suralaya, tapi mereka dikalahkan Batara Wisnu dan Batara Brama. Batara Brama lalu menjadi raja Medang Siwanda, bergelar Sri Maharaja Budawaka.
227 : Batara Kala datang lagi dan membangun Medang Kamulan baru, bergelar Sri Maharaja Bairawa.
232 : Terjadi perang antara Medang Kamulan dan Medang Siwanda. Sri Maharaja Budawaka kalah dan mengungsi ke Medang Gili (bekas kerajaannya dulu), lalu mengganti namanya menjadi Kerajaan Gilingaya.
252 : Sri Maharaja Bairawa hendak menyerang Suralaya, tapi dikalahkan Brahmana Kestu (penjelmaan Batara Wisnu) dan diusir dari Medang Kamulan. Brahmana Kestu lalu menjadi raja bergelar Sri Maharaja Budakresna. Medang Kamulan pun diganti nama menjadi Kerajaan Purwacarita.
262 : Sri Maharaja Budawaka berperang melawan Sri Maharaja Budakresna, dipisah Batara Rudra (kakak tiri Batara Guru). Sri Maharaja Budawaka malu setelah tahu dirinya berperang melawan adik sendiri. Ia pun kembali ke kahyangan menjadi Batara Brama.
263 : Empu Rasikadi (menantu Sri Maharaja Budawaka) menjadi raja Gilingaya, bergelar Prabu Bramakadali.
271 : Prabu Bramakadali tewas di tangan Sri Maharaja Budakresna karena salah paham. Batara Rudra datang menasihati, membuat Sri Maharaja Budakresna malu dan kembali menjadi Batara Wisnu, meninggalkan Purwacarita.
272 : Batara Rudra menjadi raja Gilingaya (bekas negara Prabu Bramakadali), bergelar Sri Maharaja Dewahesa.
308 : Sri Maharaja Dewahesa mengusir putranya yang bernama Raden Jaka Pakukuhan dan Raden Jaka Puring. Raden Jaka Pakukuhan lalu membangun Kerajaan Tasikmadu, sedangkan Raden Jaka Puring sebagai patih.
310 : Prabu Pakukuhan pindah ke Purwacarita (bekas negara Sri Maharaja Budakresna), dan mengganti gelar menjadi Prabu Sri Mahapunggung.
318 : Sri Maharaja Dewahesa menyerang Prabu Sri Mahapunggung (putranya sendiri) tapi kalah dan kembali menjadi Batara Rudra. Prabu Sri Mahapunggung lalu mengganti gelar menjadi Sri Maharaja Kanwa. Ia menjadi tokoh pertama yang mengajarkan ilmu pertanian pada masyarakat Jawa.
348 : Sri Maharaja Kanwa tewas terkena tsunami saat Pulau Jawa terpisah dengan Sumatra. Terjadi perselisihan antara adiknya (Patih Jaka Puring) dan menantunya (Raden Turunan). Patih Jaka Puring lalu pindah ke Gilingaya (bekas negara Sri Maharaja Dewahesa) dan menjadi raja bergelar Prabu Heryanarudra, sedangkan Raden Turunan menjadi raja Purwacarita, bergelar Prabu Kandihawa.
352 : Prabu Kandihawa tewas melawan Prabu Heryanarudra saat terjadi perang antara Purwacarita melawan Gilingaya.
371 : Raden Respati (putra Prabu Kandihawa) membangun Kerajaan Medang Kamulan di tanah Medanggele, bergelar Prabu Palindriya.
386 : Prabu Hernyanarudra meninggal, digantikan anak angkatnya sebagai raja Gilingaya, bergelar Prabu Sitawaka (aslinya seorang wanita menyamar pria, bernama Dewi Sinta Basundari, istri Prabu Palindriya yang kabur dari istana karena cemburu).
391 : Prabu Sitawaka dikalahkan Patih Selacala (putra Prabu Palindriya) dari Medang Kamulan. Patih Selacala lalu menjadi raja Gilingaya, bergelar Prabu Watugunung, serta mengganti nama Gilingaya menjadi Gilingwesi. Adapun Prabu Sitawaka lari ke hutan dan kembali menjadi wanita.
392 : Prabu Palindriya meninggal. Takhta Medang Kamulan lalu diduduki Resi Setmata (penjelmaan Batara Wisnu).
400 : Prabu Setmata diusir dari Medang Kamulan oleh Batara Guru karena berani menikahi Dewi Sriyuwati (putri Prabu Palindriya).
430 : Prabu Watugunung raja Gilingwesi menyerang Kahyangan Suralaya, tewas di tangan Resi Setmata. Batara Guru lalu mengampuni dosa Resi Setmata dan mengizinkannya kembali menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Prabu Wisnupati. Adapun Kerajaan Gilingwesi diserahkan kepada pemilik aslinya, yaitu Batara Brama, bergelar Prabu Brahmaraja.
445 : Prabu Wisnupati (raja Medang Kamulan) mengalahkan putra Batara Kala yang bernama Prabu Karungkala (raja Medang Penataran). Ia lalu menduduki takhta Medang Penataran dan mengganti namanya menjadi Kerajaan Purwacarita.
451 : Prabu Brahmaraja kembali ke kahyangan menjadi Batara Brama dan menyerahkan Gilingwesi kepada putranya yang bernama Raden Brahmanisita, bergelar Prabu Brahmanaraja. Prabu Wisnupati juga kembali menjadi Batara Wisnu dan menyerahkan Purwacarita kepada putranya, yaitu Raden Srigati yang bergelar Prabu Sri Mahapunggung. Sedangkan putra yang lain, yaitu Raden Srinada mendapat negara lama (Medang Pura) yang diganti nama menjadi Kerajaan Wirata, bergelar Prabu Basurata.
460 : Raden Radeya (putra Prabu Watugunung yang berhasil lolos) membangun Kerajaan Medang Galungan, bergelar Prabu Sindula.
475 : Prabu Sindula kalah perang melawan putranya sendiri, yaitu Raden Sadewa yang bergelar Prabu Cingkaradewa. Prabu Cingkaradewa lalu menjadi raja Medang Galungan dan mengganti namanya menjadi Medang Kamulan.
476 : Prabu Cingkaradewa ingin menguasai seluruh Jawa. Ia menewaskan Prabu Brahmanaraja raja Gilingwesi.
477 : Prabu Cingkaradewa mengalahkan Prabu Basurata raja Wirata dan menewaskan Prabu Sri Mahapunggung raja Purwacarita. Sejak saat itu Wirata, Purwacarita, dan Gilingwesi menjadi bawahan Medang Kamulan. Wirata tetap dipimpin Prabu Basurata, Purwacarita dipimpin Raden Wandu (putra Prabu Sri Mahapunggung) yang bergelar Prabu Sri Mahawan, sedangkan Gilingwesi masih kosong. Prabu Cingkaradewa sebagai raja tertinggi mengganti gelar menjadi Sri Maharaja Purwacandra.
478 : Raden Tritrusta (putra Prabu Brahmanaraja) yang lolos akhirnya menyerahkan diri ke Medang Kamulan dan diangkat sebagai raja Gilingwesi, bergelar Prabu Brahmasatapa.
488 : Prabu Basurata menyerahkan takhta Wirata kepada putranya, bernama Raden Brahmaneka bergelar Prabu Basupati.
512 : Sri Maharaja Purwacandra yang homoseks dikalahkan Brahmana Wisaka (penyamaran Ajisaka) dari Hindustan. Brahmana Wisaka lalu menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Sri Maharaja Wisaka dan memerdekakan Wirata, Gilingwesi, Purwacarita.
514 : Sri Maharaja Wisaka melanjutkan perjalanan dan menyerahkan takhta kepada muridnya, yaitu Raden Wandawa (yang juga putra sulung Prabu Sri Mahawan raja Purwacarita). Raden Wandawa menjadi raja Medang Kamulan, bergelar Prabu Sriwahana.
515 : Prabu Brahmasatapa meninggal, digantikan putranya sebagai raja Gilingwesi, bergelar Prabu Parikenan.
516 : Prabu Sri Mahawan menyerahkan takhta Purwacarita kepada putra bungsunya, yaitu Raden Wahnaya, bergelar Prabu Srikala.
517 : Begawan Kalacakra (Prabu Sri Mahawan) meninggal, disusul pula Prabu Sriwahana (putra sulungnya) di Medang Kamulan.
521 : Gilingwesi dan Purwacarita berperang karena salah paham. Prabu Parikenan gugur di tangan Prabu Srikala. Prabu Basupati raja Wirata (yang juga kakak ipar Prabu Parikenan) membalas mengalahkan Prabu Srikala. Prabu Basupati lalu menjadi raja Purwacarita.
524 : Prabu Basupati pindah ke istana Andongwilis yang diberi nama Kerajaan Wirata baru.
531 : Prabu Basupati meninggal keracunan, digantikan putra sulungnya sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basumurti.
543 : Prabu Basumurti di Wirata mengangkat putranya yang bernama Raden Basusena sebagai raja di Gajahoya, bergelar Prabu Hastimurti.
544 : Prabu Basumurti meninggal, digantikan adiknya sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basukesti.
553 : Prabu Hastimurti meninggal, digantikan adik iparnya sebagai raja Gajahoya, bergelar Prabu Basunanda.
572 : Prabu Basukesti meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Basutara sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Basukiswara.
573 : Prabu Basunanda menyerahkan takhta Gajahoya kepada Raden Wasanta (putra Prabu Hastimurti) yang bergelar Prabu Pratipa. Kerajaan Gajahoya pun diganti nama menjadi Kerajaan Hastina.
590 : Prabu Basukiswara meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Basuketi sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Wasupati.
612 : Prabu Pratipa tewas saat menyerang Kerajaan Wirata, lalu digantikan putra bungsunya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Santanu.
640 : Prabu Santanu menjadi pendeta dan menyerahkan takhta Hastina kepada Resi Parasara (keturunan Prabu Parikenan raja Gilingwesi terakhir), yang bergelar Prabu Dwipakeswara.
657 : Prabu Wasupati meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Durgandana sebagai raja Wirata, bergelar Prabu Matsyapati.
658 : Prabu Santanu kembali menjadi raja Hastina sepeninggal Resi Parasara.
662 : Prabu Santanu meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Citranggada.
665 : Prabu Citranggada meninggal muda, digantikan adiknya yang bergelar Prabu Citrawirya. Kemudian Prabu Citrawirya meninggal pula dan digantikan kakak tirinya, yaitu Resi Abyasa (putra Resi Parasara) sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Kresna Dwipayana.
686 : Prabu Kresna Dwipayana kembali menjadi Resi Abyasa dan menyerahkan takhta Hastina kepada putra kedua, yang bergelar Prabu Pandu Dewanata.
710 : Prabu Pandu Dewanata meninggal. Ia sempat menitipkan takhta Hastina kepada kakaknya yang buta, bergelar Prabu Dretarastra (putra sulung Resi Abyasa).
716 : Prabu Dretarastra menyerahkan takhta Hastina kepada anak-anaknya yang disebut Seratus Kurawa, dipimpin Raden Jayapitana, yang bergelar Prabu Duryudana. Sementara itu, anak-anak Prabu Pandu Dewanata yang disebut Pandawa Lima membangun Kerajaan Amarta, di mana yang sulung menjadi raja, bernama Raden Puntadewa, bergelar Prabu Yudhistira.
755 : Permusuhan para Pandawa dan Kurawa meletus menjadi Perang Bratayuda. Seluruh Kurawa tewas. Kerajaan Hastina kemudian dipimpin oleh Prabu Yudhistira.
770 : Prabu Yudhistira menyerahkan takhta Hastina kepada cucu Raden Arjuna (adiknya) yang bernama Raden Parikesit, bergelar Prabu Dipayana.
796 : Prabu Dipayana meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Yudayana.
799 : Prabu Yudayana meninggal, digantikan putranya sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Gendrayana.
824 : Prabu Gendrayana dibuang dari Hastina karena salah menghukum adiknya (Raden Sudarsana). Ia lalu membangun kerajaan baru bernama Mamenang di bumi Kadiri, sedangkan takhta Hastina diserahkan kepada Raden Sudarsana, bergelar Prabu Yudayaka.
839 : Prabu Gendrayana meninggal, digantikan putranya yang bernama Raden Narayana sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Jayapurusa.
840 : Prabu Yudayaka digantikan putranya yang bernama Raden Kijingwahana sebagai raja Hastina, bergelar Prabu Sariwahana. Kerajaan Hastina lalu diganti nama menjadi Kerajaan Yawastina.
848 : Prabu Sariwahana pindah ke Kerajaan Malawapati
860 : Prabu Sariwahana tewas berperang melawan Prabu Jayapurusa raja Mamenang Kadiri. Kedua putranya lalu menjadi raja, yaitu Prabu Ajidarma di Malawapati dan Prabu Astradarma di Yawastina.
865 : Prabu Ajidarma ingin membalas kematian ayahnya tetapi ia tewas berperang melawan Prabu Jayapurusa raja Mamenang Kadiri.
868 : Prabu Astradarma (yang sudah berganti nama menjadi Prabu Purusangkara dan diambil menantu Prabu Jayapurusa) tenggelam oleh banjir beserta seluruh Kerajaan Yawastina, meninggalkan putra bernama Raden Anglingdarma. Prabu Jayapurusa lalu mengganti gelar menjadi Prabu Batara Aji Jayabaya.
883 : Prabu Batara Aji Jayabaya muksa, digantikan putranya sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Jaya Amijaya.
890 : Prabu Jaya Amisena (putra Prabu Jaya Amijaya) naik takhta menjadi raja Mamenang Kadiri, sedangkan Prabu Anglingdarma (putra Prabu Astradarma) menjadi raja Malawapati.
933 : Prabu Anglingdarma mengangkat putra-putranya menjadi raja, yaitu Prabu Anglingkusuma di Bojanagara dan Prabu Danurwenda di Kartanagara, kemudian ia menjadi pendeta dan menyerahkan takhta Malawapati kepada cucunya, yaitu Raden Gandakusuma (putra Prabu Anglingkusuma) yang bergelar Prabu Danukusuma.
943 : Prabu Jaya Amisena digantikan putranya sebagai raja Mamenang Kadiri, bergelar Prabu Kusumawicitra.
953 : Prabu Kusumawicitra mengalahkan Prabu Anglingkusuma dan Prabu Danurwenda, lalu ia mengganti gelar menjadi Prabu Aji Pamasa, serta memindahkan kerajaan ke Pengging Witaradya, kemudian menyerahkan takhta kepada putranya, bergelar Prabu Citrasoma.
961 : Prabu Citrasoma digantikan putranya sebagai raja Pengging, bergelar Prabu Pancadriya.
982 : Prabu Pancadriya digantikan putranya sebagai raja Pengging, bergelar Prabu Anglingdriya.
999 : Munculnya seorang raja baru di Kerajaan Galuh, bernama Prabu Sindula (penjelmaan Batara Sindula, cucu Batara Anantaboga).
1000 : Munculnya seorang raja baru di Prambanan, bernama Prabu Karungkala.
1019 : Prabu Anglingdriya menyerahkan takhta Pengging kepada menantunya, yang bergelar Prabu Darmamaya (putra Prabu Darmanata raja Sudimara), karena berhasil mengalahkan Prabu Karungkala yang memeranginya. Prabu Karungkala lalu digantikan adik iparnya (suami Rara Jonggrang) sebagai raja Prambanan, bergelar Prabu Baka (putra Prabu Dipanata raja Salembi).
1021 : Prabu Baka raja Prambanan dikalahkan cucu Prabu Anglingdriya yang bernama Raden Bandung Bandawasa (putra Prabu Darmamaya).
1022 : Prabu Darmamaya meninggal. Kerajaan Pengging kembali dipimpin oleh Prabu Anglingdriya.
1023 : Prabu Sindula raja Galuh dikalahkan oleh putranya sendiri yang bernama Prabu Dewatacengkar raja Medang Kamulan. Prabu Dewatacengkar ini seorang raja kanibal yang suka memangsa manusia.
1024 : Prabu Anglingdriya raja Pengging tewas diserang Prabu Dewatacengkar raja Medang kamulan.
1030 : Prabu Dewatacengkar dikalahkan Brahmana Ajisaka, yang kemudian menduduki takhta, bergelar Prabu Widayaka. Medang Kamulan lalu diganti nama menjadi Kerajaan Purwacarita.
1044 : Dua orang putra Prabu Anglingdriya diangkat menjadi raja, yaitu Prabu Suwelacala (menantu Prabu Widayaka) di Medang Kamulan, dan Prabu Pandayanata di Pengging.
1046 : Kerajaan Purwacarita direbut putra Prabu Dewatacengkar yang bergelar Prabu Daneswara.
1061 : Prabu Daneswara dikalahkan putra Prabu Suwelacala yang bernama Raden Jaka Kanduyu. Ia lalu menjadi raja Purwacarita, bergelar Prabu Sri Mahapunggung.
1084 : Prabu Sri Mahapunggung digantikan putranya yang bernama Raden Kandihawan sebagai raja Purwacarita, bergelar Prabu Jayalengkara.
1097 : Adik Prabu Jayalengkara menjadi raja Majapura, bergelar Prabu Tejalengkara. Sementara yang menggantikan Prabu Jayalengkara sebagai raja Purwacarita adalah putranya yang bernama Raden Lembu Subrata, bergelar Prabu Resi Gatayu. Kerajaan Purwacarita lalu diganti nama menjadi Medang Koripan.
1100 : Prabu Tejalengkara digantikan putranya sebagai raja Majapura, bergelar Prabu Tejangkara.
1119 : Prabu Resi Gatayu turun takhta dan melantik kelima anaknya, yaitu Dewi Kilisuci sebagai pandita di Pucangan (Selamangleng); Raden Dewakusuma bergelar Prabu Lembu Amiluhur sebagai raja di Jenggala; Prabu Lembu Amijaya sebagai raja di Kadiri; Prabu Lembu Amisena sebagai raja di Ngurawan; dan Prabu Lembu Amisani sebagai raja di Singasari.
1144 : Prabu Lembu Amiluhur digantikan putranya sebagai raja Jenggala, bernama Raden Panji Inu Kertapati (alias Raden Panji Asmarabangun), yang bergelar Prabu Panji Surya Amisesa, bersamaan dengan Prabu Lembu Amijaya digantikan putranya sebagai raja Kadiri, bernama Raden Gunungsari, bergelar Prabu Surya Amijaya.
1145 : Prabu Lembu Amisena di Ngurwan digantikan putranya yang bernama Raden Sinjanglaga, bergelar Prabu Suryadilaga; sedangkan Prabu Lembu Amisani di Singasari digantikan putranya yang bernama Raden Banyakpatra, bergelar Prabu Suryawinata.
1161 : Prabu Panji Surya Amisesa digantikan putranya yang bernama Raden Kuda Laleyan sebagai raja Jenggala, bergelar Prabu Surya Amiluhur.
1162 : Kerajaan Jenggala rusak karena banjir. Prabu Surya Amiluhur memindahkan istana ke Pajajaran, dan mengganti gelar menjadi Prabu Panji Mahesa Tandreman.
1183 : Prabu Panji Mahesa Tandreman digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Banjaransari.
1216 : Prabu Banjaransari digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Purbasapala.
1234 : Prabu Purbasapala digantikan putranya sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Dewamantala.
1241 : Prabu Dewamantala dikalahkan pamannya yang kemudian menjadi raja Pajajaran, bergelar Prabu Mundingsari.
1250 : Prabu Mundingsari mengangkat putra-putranya sebagai raja, yaitu Raden Mundingwangi sebagai raja Pajajaran, Raden Buniwangi sebagai raja Kuningan, dan Raden Siliwangi sebagai raja Galuh.
1262 : Prabu Mundingwangi digantikan putranya yang bernama Raden Gandakusuma sebagai raja Pajajaran, bergelar Prabu Sunda Anyakrawati atau Prabu Sri Pamekas.
1283 : Prabu Sri Pamekas dibunuh anaknya sendiri yang lahir dari selir, bernama Raden Siyungwanara, yang kemudian menjadi raja Pajajaran, bergelar Prabu Maharaja Sakti.
1284 : Prabu Maharaja Sakti dikalahkan kakaknya, yaitu Raden Mahesa Tanduran (putra Prabu Sri Pamekas dari permaisuri) yang memakai nama samaran Jaka Sesuruh. Kemudian Jaka Sesuruh menjadi raja Pajajaran bergelar Prabu Bratana dan memindahkan istana ke timur, serta mengganti namanya menjadi Kerajaan Majapahit.
1299 : Prabu Bratana digantikan putranya yang bernama Raden Prabuanom sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brakumara.
1301 : Prabu Brakumara tewas saat berburu dan digantikan putranya yang bernama Raden Adaningkung sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya I.
1316 : Prabu Brawijaya I digantikan putrinya yang bernama Dewi Retna Subasiti sebagai raja Majapahit, bergelar Ratu Ayu Prabu Kenya Kencanawungu.
1320 : Ratu Ayu digantikan suaminya sebagai raja Majapahit, yang bernama Raden Damarwulan, bergelar Prabu Brawijaya II.
1356 : Prabu Brawijaya II digantikan putranya yang lahir dari Ratu Ayu sebagai raja Majapahit, yang bernama Raden Lembuamisani, bergelar Prabu Brawijaya III.
1371 : Prabu Brawijaya III digantikan saudara tirinya yang bernama Raden Bratanjung (putra Prabu Brawijaya II dengan Dewi Anjasmara) sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya IV.
1375 : Prabu Brawijaya IV digantikan putranya yang bernama Raden Angkawijaya sebagai raja Majapahit, bergelar Prabu Brawijaya V.
1440 : Prabu Brawijaya V dikalahkan putranya yang lahir dari Putri Cina, bernama Raden Patah yang bergelar Adipati Bintara di Demak. Riwayat Kerajaan Majapahit pun berakhir.
===== VERSI HISTORI =====
Tonggak yang menjadi penanda lahirnya zaman sejarah adalah ditemukannya tulisan, sebagai pembeda dengan zaman prasejarah yang belum mengenal tulisan. Saya tegaskan di sini bahwa leluhur kita pada zaman prasejarah memang belum mengenal budaya tulis, tetapi bukan berarti mereka adalah kaum primitif sebagaimana yang disimbolkan para pujangga keraton sebagai kaum bekasakan, sama sekali tidak demikian.
Dengan ditemukannya berbagai macam artefak kuno telah membuktikan bahwa leluhur kita pada zaman prasejarah sudah memiliki peradaban dan kebudayaan tinggi, meskipun mereka belum mengenal tulisan. Berikut saya merangkum daftar raja-raja Jawa dengan menggunakan angka tahun kalender Masehi sebagaimana yang saya peroleh dari buku babon Sejarah Nasional Indonesia jilid 2.
500 : Taruma adalah kerajaan bercorak India pertama di Pulau Jawa sebagai tonggak lahirnya zaman sejarah, dengan bukti temuan sejumlah prasasti yang dikeluarkan oleh Srimat Purnawarman. Bukti sejarah Taruma juga didukung oleh berita Cina dari zaman Dinasti Sui yang menyebutkan pada tahun 528 dan 535 ada sebuah negeri di selatan yang bernama To-lo-mo. Memang ditemukan sumber lain bernama Naskah Wangsakerta yang menyebutkan adanya kerajaan di Pulau Jawa bernama Salakanagara yang lebih tua daripada Taruma. Namun, karena naskah ini masih kontroversi dan diperdebatkan kebenarannya, maka saya mengikuti pendapat mayoritas sesuai temuan prasasti, bahwa Taruma adalah tonggak lahirnya zaman sejarah di Pulau Jawa.
640 : Terdapat kerajaan di Jawa bernama Ho-ling sebagaimana tertulis dalam berita Cina dari Dinasti Tang. Kerajaan Ho-ling ini oleh para sejarawan biasanya diartikan Keling, atau Kalingga, atau mungkin Walaing.
674 : Kerajaan Ho-ling dipimpin oleh raja wanita bernama Hsi-ma yang terkenal keadilan dan ketegasannya. Kisah ini tercatat dalam berita Cina dari zaman Dinasti Tang.
732 : Masa pemerintahan Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya yang mendirikan Kerajaan Medang. Raja Sanjaya ini mengeluarkan prasasti Canggal yang mengisahkan bahwa sebelum dirinya, yang menjadi raja Jawa adalah pamannya yang bernama Sanna.
746 : Rakai Panangkaran menjadi raja Medang. Menurut prasasti Mantyasih, namanya disebut sesudah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, sedangkan dalam prasasti Wanua Tengah III, namanya disebut sesudah Rahyangta i Hara, adik dari Rahyangta i Medang (julukan untuk Sanjaya). Sedangkan dalam prasasti Kalasan, tokoh Rakai Panangkaran ini disebut dengan nama Tejahpurnapana Panamkarana.
760 : Terdapat sebuah kerajaan bernama Kanjuruhan di Jawa timur, dengan rajanya bernama Gajayana. Yang menjadi bukti kesejarahannya ialah prasasti Dinoyo.
784 : Rakai Panangkaran di Kerajaan Medang digantikan oleh Rakai Panaraban menurut berita dari prasasti Wanua Tengah III. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Rakai Panaraban dan Rakai Panunggalan adalah orang yang sama.
803 : Menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Panunggalan adalah Rakai Warak, sedangkan menurut prasasti Wanua Tengah III, nama pengganti Rakai Panaraban disebut lengkap Rakai Warak Dyah Manara.
824 : Adanya raja lain yang memerintah di Jawa bernama Samaratungga dari Wangsa Sailendra yang mengeluarkan prasasti Karang Tengah.
827 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Warak Dyah Manara digantikan Dyah Gula sebagai raja Medang. Nama ini tidak tertulis dalam prasasti Mantyasih.
828 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Dyah Gula digantikan oleh Rakai Garung anak Sang Lumah i Teluk. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, nama Rakai Garung disebut sesudah Rakai Warak.
847 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Garung digantikan Rakai Pikatan Dyah Saladu sebagai raja Medang. Prasasti Mantyasih juga menyebutkan nama Rakai Pikatan sesudah Rakai Garung. Maharaja Rakai Pikatan ini menikahi Sri Kahulunan Pramodawardhani putri Samaratungga dari Wangsa Sailendra, sesuai berita dari prasasti Candi Plaosan Lor.
855 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Pikatan digantikan putranya sebagai raja Medang, bernama Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Prasasti Mantyasih juga menyebutkan nama Rakai Kayuwangi sesudah Rakai Pikatan.
856 : Menurut prasasti Siwagerha, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala memindahkan ibu kota Kerajaan Medang ke Mamratipura. Ia juga mengalahkan Balaputradewa putra Samaragrawira sebagai tonggak berakhirnya kekuasaan Wangsa Sailendra di Jawa.
885 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala meninggal dan digantikan oleh Dyah Tagwas sebagai raja Medang. Namun, tujuh bulan kemudian Dyah Tagwas diturunkan oleh Rakai Panumwangan Dyah Dewendra. Kedua raja ini tidak dijumpai namanya dalam prasasti Mantyasih.
887 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Panumwangan Dyah Dewendra diturunkan oleh Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra. Nama ini juga tidak dijumpai dalam prasasti Mantyasih.
890 : Dyah Dewendra masih menyebut dirinya sebagai raja bergelar Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra, dengan mengeluarkan prasasti Pohdulur. Bagaimana nasibnya kemudian tidak diketahui.
894 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra di Kerajaan Medang diturunkan oleh Rakai Wungkalhumalang Dyah Jebang. Nama yang mirip ditemukan dalam prasasti Mantyasih yaitu Rakai Watuhumalang yang disebut sesudah Rakai Kayuwangi. Itu artinya, prasasti Mantyasih tidak menyebutkan nama Dyah Tagwas, Rakai Panumwangan, dan Rakai Gurunwangi.
898 : Menurut prasasti Wanua Tengah III, Rakai Wungkalhumalang meninggal dan digantikan Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawa Uttungga Rudramurti. Sedangkan menurut prasasti Mantyasih, pengganti Rakai Watuhumalang adalah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodaya Mahasambu.
913 : Prasasti Timbangan Wungkal menyebutkan nama Sri Maharaja Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya. Pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung, tokoh ini bergelar Rakryan Mapatih i Hino Pu Daksa.
919 : Prasasti Lintakan menyebutkan nama Sri Maharaja Rakai Layang Dyah Tlodhong Sri Sajjana Sanmatanuraga Tunggadewa. Kemungkinan besar ia adalah menantu Sri Daksottama yang merebut takhta Medang dari ahli waris yang sah, yaitu Rakai Hino Pu Aku.
928 : Prasasti Wulakan menyebutkan nama Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa yang merupakan anak dari Rakryan Landhayan (adik ipar Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala). Diduga ia merebut takhta Medang dari tangan Rakai Hino Sri Ketudhara Manimantaprabha Prabhusakti Triwikrama, yaitu ahli waris sah Rakai Layang Dyah Tlodhong.
929 : Kerajaan Medang dipindahkan ke timur oleh Rakai Hino Pu Sindok yang bergelar Sri Isana Wikramadharmottungga. Menurut prasasti Turyyan, ibu kota Medang yang baru bernama Tamwlang.
937 : Prasasti Anjukladang menyebutkan bahwa ibu kota Medang telah berpindah ke Watugaluh. Kerajaan yang dipimpin Pu Sindok itu disebut Kadatwan ri Medang ri Bhumi Mataram i Watugaluh. Menurut prasasti Pucangan, Pu Sindok digantikan putrinya, bernama Sri Isana Tunggawijaya yang menikah dengan Sri Lokapala. Dari perkawinan itu lahir Sri Makuthawangsawardhana.
996 : Menurut kitab Wirataparwa, raja yang memerintah Medang saat itu adalah Sri Isana Dharmawangsa Tguh Anantawikramottunggadewa. Menurut prasasti Sirah Keting, raja ini memiliki nama asli Sang Apanji Wijayamertawardhana. Diperkirakan ia adalah putra Sri Makuthawangsawardhana.
1016 : Kerajaan Medang mengalami kehancuran saat Dharmawangsa Tguh menikahkan putrinya dengan keponakannya yang bernama Airlangga. Berita ini dijumpai dalam prasasti Pucangan.
1019 : Prasasti Pucangan mengisahkan Airlangga membangun kembali kerajaan Wangsa Isana, di mana ia bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa.
1042 : Menurut naskah Nagarakrtagama, pada akhir pemerintahannya, Airlangga membelah negara menjadi dua, yaitu Janggala dan Pangjalu. Prasasti Gandhakuti mencatat nama Airlangga setelah menjadi pendeta bergelar Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhawana.
1052 : Kerajaan Janggala dipimpin oleh Mapanji Garasakan, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Malenga. Selisih beberapa hari kemudian, keluar prasasti Banjaran dengan raja bernama Mapanji Alanjung Ahyes Makoputadhanu Sri Ajnajabharitamawakana Pasukala Nawanamanindhita Sasatrahetajnadewati.
1059 : Kerajaan Janggala dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Samarotsaha Karnakesana Ratnasangkha Kirttisingha Jayantaka Tunggadewa, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Sumengka.
1117 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Bameswara Sakalabhuwana Tustikarana Sarwaniwariwirya Parakrama Digjayottunggadewa. Bukti kesejarahannya antara lain prasasti Padlegan.
1135 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya Sri Warmmeswara Madhusudana Awataranindita Suhtrsingha Parakrama Digjayottunggadewanama. Bukti kesejarahannya antara lain prasasti Hantang, prasasti Talan, dan kakawin Bharatayuddha.
1159 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Rakai Sirikan Sri Sarwweswara Janardhanawatara Wijayagrajasama Singhanadaniwaryawirya Parakrama Digjayottunggadewa, dengan bukti kesejarahan antara lain prasasti Padlegan II dan prasasti Kahyunan.
1169 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Rakai Hino Sri Aryyeswara Madhusudanawatararijaya, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Meleri.
1181 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Handabhuwanamalaka Parakramanindita Digjayottunggadewanama Sri Gandra, dengan bukti kesejarahan berupa prasasti Jaring.
1182 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Kameswara Triwikramawatara Aniwaryawirya Parakrama Digjayottunggadewanama, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Semanding.
1194 : Kerajaan Pangjalu dipimpin oleh Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Srenggalancana Digjayottunggadewanama, dengan bukti kesejarahan antara lain berupa prasasti Kemulan. Tokoh ini pada prasasti Angin disebut Kertajaya, sama seperti nama raja terakhir Pangjalu menurut Nagarakrtagama.
1222 : Sri Kertajaya dikalahkan oleh Ranggah Rajasa menurut berita dari Nagarakrtagama. Ini merupakan akhir riwayat Kerajaan Pangjalu dan awal berdirinya Kerajaan Tumapel.
1227 : Ranggah Rajasa meninggal dan digantikan oleh Anusanatha sebagai raja Tumapel menurut Nagarakrtagama, atau disebut Anusapati menurut Pararaton. Menurut prasasti Mula Malurung, pendiri Kerajaan Tumapel itu meninggal di atas takhta emas.
1248 : Menurut Nagarakrtagama, Anusanatha meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Wisnuwardhana. Tokoh ini memiliki nama asli Nararya Sminingrat. Tetapi menurut prasasti Mula Malurung, pengganti Anusapati adalah adiknya, yaitu Bhatara Parameswara (yang juga mertua Sminingrat). Kemudian Bhatara Parameswara digantikan oleh adiknya, yaitu Nararya Guningbhaya. Sedangkan Nararya Guningbhaya digantikan kakaknya yang bernama Nararya Tohjaya. Baru setelah Nararya Tohjaya meninggal, takhta Tumapel dipegang oleh Nararya Sminingrat.
1268 : Nararya Smingrat atau Sri Wisnuwardhana meninggal dan digantikan putranya yang bernama Sri Kertanagara Wikramadharmottungga. Berita ini terdapat dalam Nagarakrtagama.
1292 : Sri Kertanagara tewas akibat pemberontakan Sri Jayakatyeng, seorang raja bawahan di Glang-Glang. Berita ini terdapat dalam prasasti Kudadu. Menurut Nagarakrtagama, tokoh ini disebut Jayakatwang, yang merupakan keturunan Sri Kertajaya, raja terakhir Pangjalu Kadhiri.
1293 : Sri Jayakatwang dikalahkan oleh menantu Sri Kertanagara yang bernama Dyah Wijaya, yang bekerja sama dengan tentara Dinasti Yuan. Setelah Dyah Wijaya memukul mundur tentara asing itu, ia pun mendirikan Kerajaan Majapahit, dengan bergelar Sri Kertarajasa Jayawarddhana. Berita ini terdapat dalam prasasti Kudadu dan kitab Yuanshi.
1309 : Sri Kertarajasa Jayawarddhana meninggal dan digantikan putranya, yang bernama Sri Jayanagara, bergelar Sri Sundarapandya Dewadhiswara. Berita ini terdapat dalam Nagarakrtagama.
1328 : Sri Jayanagara tewas dibunuh tabib istana menurut Pararaton. Yang menjadi raja Majapahit selanjutnya adalah Dyah Gitarja, yang bergelar Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani, menurut Nagarakrtagama.
1350 : Tribhuwanottunggadewi digantikan putranya yang bergelar Dyah Hayam Wuruk sebagai raja Majapahit, bergelar Bhatara Prabhu Sri Rajasanagara. Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan, sebagai wujud sumpah palapa Rakryan Mapatih Pu Gajah Mada.
1375 : Mertua Sri Rajasanagara yang bernama Wijayarajasa memisahkan diri dari Majapahit dan mendirikan Kedaton Wetan, bergelar Bhattara Parameswara ring Pamotan. Peristiwa ini menjadi cikal-bakal perpecahan di Majapahit, dan tercatat dalam kitab Mingshi.
1389 : Sri Rajasanagara meninggal dan digantikan menantunya sebagai raja Majapahit, yaitu Wikramawardhana, yang bergelar Bhattara Hyang Wisesa. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1400 : Bhattara Hyang Wisesa menjadi pendeta. Kerajaan Majapahit pun dipimpin istrinya, yaitu Bhattarestri Kusumawardhani (putri Sri Rajasanagara). Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1401 : Perang Paregreg meletus antara Kedaton Barat yang dipimpin Bhattara Hyang Wisesa melawan Kedaton Timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi (anak Sri Rajasanagara dari selir yang sejak kecil diasuh Sri Wijayarajasa). Perang ini berakhir tahun 1406 dengan kematian Bhre Wirabhumi. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1427 : Bhattara Hyang Wisesa meninggal dunia. Kerajaan Majapahit sepenuhnya dipimpin oleh istrinya, yaitu Bhatara Prabhustri Kusumawardhani. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1429 : Bhatara Prabhustri Kusumawardhani meninggal dunia. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1437 : Bhre Daha Dyah Suhita menjadi raja Majapahit, bergelar Bhattara Prabustri. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1447 : Bhattara Prabhustri Dyah Suhita meninggal dan digantikan adiknya yang bernama Dyah Kertawijaya sebagai raja Majapahit, bergelar Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana, menurut prasasti Waringin Pitu.
1451 : Sri Kertawijaya meninggal dan digantikan oleh Rajasawardhana Sang Sinagara menurut Pararaton, yang memiliki nama asli Dyah Wijayakumara, menurut prasasti Waringin Pitu.
1453 : Rajasawardhana meninggal dunia, tidak ada yang menggantikannya sehingga takhta Majapahit kosong selama tiga tahun. Berita ini terdapat dalam Pararaton.
1456 : Bhre Wengker naik takhta menjadi raja Majapahit, bergelar Bhattara Hyang Purwawisesa. Berita ini terdapat dalam Pararaton. Menurut prasasti Waringinpitu, tokoh Bhattare Wengker memiliki nama asli Girishawardhana Dyah Suryawikrama.
1466 : Bhre Pandansalas menjadi raja Majapahit. Berita ini terdapat dalam Pararaton. Menurut prasasti Pamintihan, tokoh ini bernama Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana Sri Giripati Prasutabhupati Ketubhuta.
1478 : Pararaton memberitakan adanya raja yang meninggal di dalam kadaton. Ada dua pendapat mengenai hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang meninggal adalah Bhre Kertabhumi putra bungsu Sang Sinagara. Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa yang meninggal adalah Dyah Suprabhawa.
1486 : Prasasti Petak dan prasasti Jiyu memberitakan adanya raja Majapahit bernama Sri Maharaja Prabhu Natha Sri Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya.
1513 : Armada Portugis datang ke Jawa, di mana juru tulisnya yang bernama Tome Pires mencatat bahwa raja Jawa saat itu bernama Batara Vojyaya yang beristana di Daha. Nama ini adalah ejaan Portugis untuk Bhattara Wijaya, yang secara berangsur-angsur tersimpan dalam ingatan masyarakat Jawa dengan pengucapan Brawijaya, yaitu raja terakhir Majapahit menurut versi fantasi.
1527 : Kedaton Daha runtuh oleh serangan Sultan Trenggana dari Demak. Kisah ini terdapat dalam naskah Babad Sengkala. Berakhirlah riwayat Kerajaan Majapahit.
Disusun oleh Heri Purwanto, 31 Oktober 2015.
Sabtu, 20 November 2021
ENERJI SKM (SYAHBANDAR KARI MADI)
"" INTI ILMU...: Disetiap Warga SKM atau Unsur SKM yang Masih Meyakini didalam Jiwanya terhadap SKM, keberadaan SKM dan Guru (GB.V.SKM/AMA), MAKA didalam jiwanya/Rohaninya/Hatinya/Rasanya/Manahna, disitu terdapat kumpulan Roh-Roh/Nyawa-Nyawa Leuluhur dan Para sakti yang saat ini menunggu dan mencari Roh/Nyawa Sang Sumber atau Sang Awal/AMA secara Otomatis yang semuanya itu bersumber pada Ilmu SKM dan Wujud Guru SKM. *Atas hal itu tidak heranlah setiap warga SKM memiliki Keunggulan-Keunggulan JIWA yang tdk dapat di sakiti oleh unsur-unsur jahat/niat jahat apapun di Bumi ini.* Roh-Roh tersebutpun selama ini belum pernah menemukan yang mereka cari (AMA) selama ini, Maka setelah ILMU SKM ada maka Kumpulan Rohani-Rohani dahulu yang telah sirna dunia itu dipastikan datang kembali ke kehidupan jasmani saat ini ke setiap Warga SKM secara otomatis berbentuk ENERGI yang bila di juruskan mereka terpental. Roh-roh itu seakan numpang ke wujud-wujud warga SKM dgn cara santun dan bersifat mengabdi kpd dirinya bila dirinya masih meyakini terhadap GURU SKM dan arahan-arahannya sebagai bentuk bahwa mereka ingin mengabdi dan merasa dekat selalu bersama Guru/Ama yang mereka tahu bahwa itu sebuah Pencarian Akhir yang baru mereka temukan selama ini di alam Rohani. Makanya Bagi Setiap Warga yang Yakin ke Guru dan Mengabdi Ke Guru, maka Energi yang berbebtuk Rohani-Rohani di Jiwanya itu tdk akan habis-habisnya memberi keajaiban-keajaiban ataupun jiwa tenang terkendali.. pada dirinya sebagai bentuk pengabdian kpd Wujud-Wujud yang di singgahinya dan Bila Keyakinan/Rasa suka itu berkurang atau hilang kpd Guru, maka seakan-akan hidupnya KOSONG kembali seperti sedia kala sebelum masuk SKM, karena atas hal itu ENERGI kembali/keluar tuk mencari wujud-wujud baru yang masih meyakini atau warga baru yang percaya baru kpd keberadaan Guru sbg Bentuk dan Wajud pengabdian ROHANI-ROHANI/ENERGI kpd Sang Guru Tadi. Wujud setiap warga SKM yang Mengabdi sesuai Kehendak Rohaninya kepada Guru, hal itu sebuah keberuntungan Numpang Hidup Enak Penuh Keajaiban selama ini dari energi yang numpang wujud untuk menghadap kpd Guru, asal hal itu tdk di kalahkan oleh pemikiran-pemikiran AKAL yang Terbatas dan selalu dibatasi. Itulah Inti dan Isi ILMU SKM (Budaya Asli Nusantara Sejati). Haadeuh... Panjang...X nich nulisnya. He.he.. ""
Kamis, 18 November 2021
SASMITO CAHAYA
Jumat, 12 November 2021
Filosofi kupu kupu
Ulat merupakan salah satu binatang yang sering dipelajari di sekolah-sekolah, bahkan sejak kita berada di sekolah tingkat dasar. Salah satu alasannya adalah karena proses kehidupannya yang dapat dibilang cukup unik dan menarik untuk dipelajari, yaitu ulat melewati proses metamorfosis yang tidak semua binatang pun melewatinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, metamorfosis adalah perubahan atau peralihan bentuk. Selama hidupnya, ulat akan melalui proses yang dapat mengubah bentuknya menjadi kepompong dan kupu-kupu. Hal tersebut yang menyebabkan kehidupan ulat menarik untuk dipelajari secara biologis. Akan tetapi, selain dipelajari secara biologis sebenarnya ada banyak hal lain yang dapat dipelajari dari kehidupan ulat.
Ketika masih menjadi ulat, Dia menjadi salah satu binatang yang belum kuat dan kecil. Ulat bahkan merupakan makanan dari banyak binatang, sehingga dia harus berjuang untuk tidak dimakan agar dapat bertahan hidup.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa dalam proses kehidupan tidak menutup kemungkinan bahwa ada saatnya seseorang, sama seperti ulat, berada pada fase belumlah kuat, merasa tidak berdaya atau kecil (biasanya pada fase awal). Walaupun begitu seseorang tetap harus bertahan, berusaha, dan berjuang sekuat tenaga agar tidak “dimakan”, serta bersabar karena fase itu suatu saat akan berlalu juga.
Selain itu, ulat juga bukan termasuk binatang yang disukai banyak orang. Ada beberapa jenis ulat yang dapat membuat orang merasa tidak respek/jijik hanya dengan melihatnya saja atau juga jenis ulat yang jika dipegang dapat membuat orang merasa gatal. Beberapa alasan tersebut membuat orang enggan atau tidak mau dekat dengan ulat, bahkan cenderung menjauhi ulat.
Mirip seperti ulat, dalam kehidupan kita tidak ada orang yang disukai oleh semua orang. Orang yang paling baik sekalipun juga ada orang yang tidak menyukainya. Pada saat-saat tertentu, orang yang selalu merasa disukai dan mempunyai banyak teman juga dapat merasa kesepian atau ditinggalkan. Pada masa tersebut, seseorang harus tetap berjuang dan berusaha melewati hidup karena jika dapat melewatinya suatu saat dia akan mempunyai kesempatan berubah menjadi kupu-kupu.
Walaupun ulat kelihatannya tidak menarik, tetapi sebenarnya ulat mempunyai banyak kegunaan, seperti membantu penyerbukan, memberikan tanda-tanda alam, dan sebagainya.
Ulat membuktikan bahwa kelihatan kecil, tidak disukai dan tidak menarik.. tidak menunjukkan bahwa mereka tidak berguna. Begitu juga dengan seseorang, walaupun seseorang kelihatan tidak menarik, bukan berarti orang tersebut tidak berguna atau tidak punya talenta. Setiap orang punya kelebihan masing-masing. Jadi, jangan menilai seseorang dari luarnya saja. Ketika seseorang merasa tidak berdaya, orang tersebut juga tetap harus berusaha untuk menggunakan atau mengembangkan kelebihannya dengan baik.
Ulat harus menjadi kepompong terlebih dahulu sebelum menjadi kupu-kupu.
Proses tersebut mengajarkan bahwa jika ingin berkembang dan menjadi lebih baik lagi serta mencapai tujuan hidupnya, setiap orang pasti dan harus mau berubah. Selain itu, setiap orang harus melewati proses hidupnya sesuai urutan atau secara bertahap dengan baik, baru dapat mencapai hasil yang maksimal dan sempurna.
Ketika menjadi kepompong, ulat menyendiri dan mengasingkan diri dari kehidupan di luar.
Hal tersebut mengajarkan bahwa dalam kehidupan, ada saatnya seseorang harus “beristirahat” sebentar. Jika seseorang sedang tidak power full atau mencapai tahap dan waktu tertentu, orang tersebut perlu untuk menyepi terlebih dahulu. Menyepi bukan berarti tidak melangkah maju atau tidak bangkit, ada kalanya itu justru merupakan tahap yang harus dilewati untuk dapat naik ke tahapan selanjutnya.
Kepompong terlihat tidak melakukan hal apa pun yang berarti, padahal dia tetap berproses di dalam kepompong tersebut. Dia juga tetap menjadi kepompong sampai waktu tertentu. Jika ada orang lain yang membuka kepompong sebelum waktunya, maka kepompong tersebut bisa saja tidak menjadi kupu-kupu atau menjadi menjadi kupu-kupu yang tidak sempurna.
Dalam kehidupan, ketika seseorang memilih untuk masuk kedalam goa keajaiban (Menyepi/Meditasi) sejenak, terlihat seolah-olah orang tersebut menghabiskan atau membuang-buang waktunya. Padahal, selama proses berada didalam goa tersebut, seseorang tetap menjalani prosesnya untuk menjadi kupu-kupu. Bisa saja proses tersebut merupakan proses refleksi untuk dapat memperbaiki diri sehingga bisa melangkah ke tingkat selanjutnya atau proses lainnya yang memang diperlukan untuk menjalani proses selanjutnya. Selain itu, kepompong tersebut juga mengajarkan seseorang untuk sabar.
Jika sudah melewati semua prosesnya dan sudah waktunya, barulah kepompong tersebut akan menjadi kupu-kupu.
Setiap orang harus melewati setiap prosesnya dengan bertahap. Proses kehidupan kupu-kupu tidak mudah dan berbeda dari binatang lain, begitu juga dengan kehidupan seseorang. Proses seseorang berbeda dan unik satu sama lain, walaupun begitu seseorang tetap harus berjuang dan bersabar. Fisik atau keadaan seseorang tidak menjamin atau memperlihatkan masa depan orang tersebut. Ulat yang kecil dan terlihat tidak berdaya saja ternyata mempunyai masa depan untuk menjadi kupu-kupu. Ulat juga memperlihatkan walaupun dia kecil dan tidak berdaya, tetapi dia harus dan bisa melewati setiap proses kehidupannya yang lama dan tidak mudah, apalagi manusia pasti lebih bisa melewati setiap proses hidupnya untuk menjadi “kupu-kupu” yang cantik dalam hidupnya.
Selasa, 09 November 2021
Pentingnya fikiran positif
Ada orang yang merasa dirinya selalu bersalah, selalu kurang, selalu menderita, banyak masalah, tak punya keterampilan, tidak rupawan, tidak kaya, dan pendapat negatif lainnya terhadap diri nya sendiri, meskipun kondisi sebenarnya mungkin tidak separah yang dipikirkan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan persepsi yang lebih positif terhadap diri sendiri adalah dengan menyabda diri sendiri atau bahasa lainnya afirmasi. Pernyataan positif atau kalimat yang ditujukan untuk diri sendiri yang bisa memengaruhi energi alam bawah sadar.
Apa itu afirmasi?
Afirmasi digunakan untuk berbagai tujuan. Tetapi secara umum dipakai untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar dan mendorong seseorang untuk mempercayai hal-hal tertentu, misalnya citra positif tentang diri sendiri.
Sama seperti berolahraga, afirmasi meningkatkan kadar hormon bahagia dan mendorong otak membentuk pemikiran positif.
Menurut saya, energi alam bawah sadar memainkan peran utama dalam aktualisasi kehidupan dan manifestasi dari keinginan diri sendiri.
Apa yang Anda percaya tentang diri sendiri di tingkat bawah sadar, dapat memiliki dampak signifikan pada hasil kejadian.
Penggunan afirmasi.
Banyak orang yang sudah merasakan bahwa orang dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk memecahkan masalah di bawah tekanan dengan menggunakan sabda ke diri/afirmasi.
Afirmasi/sabda ke diri dapat memperkuat seseorang untuk percaya pada potensi tindakan yang dia ingin wujudkan.
Bila secara lisan kita menegaskan impian, keinginan, atau ambisi terhadap sesuatu, sama saja dengan menumbuhkan keyakinan mendalam bahwa kata-kata pengharapan kita akan menjadi kenyataan.
Kata-kata/sabda positif yang kita ucapkan memiliki efek penting dalam proses menyusun masa depan kita.
Dan saya memiliki keyakinan teguh bahwa dengan berafirmasi, kita memengaruhi alam semesta, kata demi kata.
Saat kita mengeluarkan suara/sabda, kita memancarkan gelombang suara ke alam semesta. Gelombang suara ini menembus udara dan bisa menjadi benda nyata, maka dari itu guru saya selalu berpesan kepada saya, wong Urip iku haram hukumnya SAMBAT, karena akan berakibat fatal dalam kehidupan saya.
Tidak ada kata-kata yang kosong, karena setiap suku kata yang kita gunakan memiliki energi tersendiri.
Jika kita terus-menerus mengatakan "Saya tidak bisa," energi pada kata-kata kita akan menolak kekuatan universal dan melawan harapan kita. Tapi jika kita mengatakan "Saya bisa!" alam semesta akan memberi kita kemampuan untuk melakukan hal itu, emboh piye carane, itu urusan alam semesta.
Contoh afrimasi/sabda ke diri.
Berikut 9 contoh kata-kata afirmasi yang bisa dipraktikkan:
1. Hari ini, saya penuh dengan energi dan dipenuhi dengan sukacita.
2. Tubuh saya sehat, pikiran saya brilian, jiwa saya tenang.
3. Saya lebih unggul dari pikiran negatif dan tindakan rendah.
4. Saya memaafkan orang-orang yang telah menyakiti saya di masa lalu dan melepaskan diri dari mereka secara damai.
5. (Jika Anda sudah menikah) Perkawinan saya menjadi lebih kuat, lebih dalam, dan lebih harmonis setiap hari.
6. (Bagi yang lajang) Pasangan yang sempurna untuk saya hadir di dalam kehidupan saya lebih cepat daripada yang saya harapkan.
7. Saya memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi sangat sukses.
8. (Bagi pemilik bisnis) Bisnis saya berkembang, berkembang, dan berkembang.
9. Energi kreatif saya melonjak, membawa saya pada gagasan baru dan cemerlang.
Cara melakukan afirmasi/sabda ke diri.
Pertama, buat daftar apa saja yang selalu Anda anggap sebagai kualitas negatif pada diri sendiri. Lalu tulis dalam kalimat positif.
Sebagai contoh, ganti "saya takut" menjadi "saya berani, atau "saya tidak akan pernah bisa" menjadi "saya pasti bisa".
Ucapkan kata-kata tersebut dengan suara keras sekitar lima menit tiga kali sehari, bisa pagi, siang, dan malam. Atau bisa juga dengan meditasi afirmasi di hati.
Mulai lah pagi kita dengan affirmasi yang positif dan pancarkan vibrasi keajaiban..
Buktikan..
KESADARAN
KESADARAN ADALAH MENTARI
Insun Rahayu Balarea Waluya.
Bangun tidur terasa sangat segar sekali, ditambah dengan suara kicauan burung dari kanan kiri, depan belakang rumah, yang saling bersahutan, rasanya damai dan indah sekali..
Seolah mengingatkan kembali, bahwa betapa sesungguhnya kita semua sedang berada di taman kehidupan surga yang maha kekal abadi, dimana SELURUH kebutuhan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya, telah ada tersedia dan tersaji di bumi alam semesta jagat raya ini,
Apa yang tidak ada (belum ada) ?
Mungkin hanya kesadaran yang tidak ada atau belum ada, kesadaran bahwa surga bumi alam ini adalah milik bersama seluruh mahluk hidup yang ada di bumi ini, kesadaran untuk berbagi kenikmatan pada sesama,
Hilangnya sistem (tradisi) gotong royong, tolong menolong, bantu membantu, bahu membahu dan bekerjasama dalam mewujudkan hajat keinginan bersama,
Diganti dengan sistem transaksional yang segalanya diukur dengan nilai uang sebagai pembelian atau pembayaran.
🙏💓🙏
Asma Pangestu Hibar Pangrieuksa
💞💓💞
#Hilangnya_Patalekan
#Guru
#Ratu
#ibu
#Bapak
#Tetangga
Minggu, 07 November 2021
Mantra pengasihan kembang kantil
Sabtu, 06 November 2021
Konsep rejeki
Suatu ketika, saya datang kepada guru saya dan bertanya..
Guru, sebenarnya bagaimanakah konsep rejeki itu? Kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu saja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.
Sang guru pun menjawab..
Pada dasarnya rejeki itu ibarat hujan yang turun dari langit. Begitu nyata dan jelas. Manusia hanya perlu menjemputnya saja.
Kenapa rejeki manusia itu berbeda?
Karena wadah mereka untuk menampung rejeki juga berbeda. Ada yang kecil, ada yang sedang, dan ada yang besar. Bahkan ada yang sangat besar.
Wadah rejeki mereka itu ibaratkan sebuah kotak dan rejeki itu ibaratkan hujan yang turun dari langit. Semakin besar kotak untuk menampung air hujan maka air hujan yang kita dapatkan pun juga akan semakin besar.
Nah, kotak itu ada 3 dimensi, yaitu PANJANG, LEBAR, dan TINGGI. Untuk memperbesar ukuran wadah tadi, maka ketiga dimensi itu juga harus dibesarkan, tidak hanya ditambah salah satunya saja.
PANJANG Kotak itu melambangkan Ikhtiar dalam menjemput rejeki.
LEBAR Kotak itu melambangkan ilmu yang dimiliki oleh seseorang.
Sedangkan TINGGI melambangkan Ibadah dan rasa Syukur yang dimiliki seseorang.
Setelah tahu 3 dimensi itu, tentu Anda pun tahu bahwa kenapa diluar sana banyak orang yang bekerja siang malam tapi rejekinya segitu-gitu saja, di sisi lain ada orang yang bekerjanya santai tapi uangnya banyak.
Mereka mungkin saja punya uang banyak meski bekerjanya tidak terlalu berat karena mereka memiliki ILMU dan RASA SYUKUR serta IBADAH yang besar.
Rezeki itu Hak Tuhan semesta alam, Seperti Hujan. Jelas, Nyata dan Berlimpah.
Jangan Fokus untuk mengejar Hujannya, tetapi fokuslah untuk memperbesar tempat menampungnya..
*SEMOGA KITA BISA MEMILIKI 3 DIMENSI ITU*..
Rabu, 03 November 2021
Tradisi 1 Suro
1. Siraman malam 1 Sura : mandi besar dengan menggunakan air serta dicampur kembang setaman. Sebagai bentuk “sembah raga” (syariat) dengan tujuan mensucikan badan, sebagai acara seremonial pertanda dimulainya tirakat sepanjang bulan Suro, antara lain lebih ketat dalam menjaga dan mensucikan hati, fikiran, serta menjaga panca indera dari hal-hal negatif. Pada saat dilakukan siraman diharuskan sambil berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Tunggal agar senantiasa menjaga kita dari segala bencana, musibah, kecelakaan. Doanya dalam satu fokus yakni memohon keselamatan diri dan keluarga, serta kerabat handai taulan. Doa tersirat dalam setiap langkah ritual mandi. Misalnya, mengguyur badan dari ujung kepala hingga sekujur badan sebanyak 7 kali siraman gayung (7 pitu, merupakan doa agar Tuhan memberikan pitulungan atau pertolongan). Atau 11 kali (11 sewelas, merupakan doa agar Tuhan memberikan kawelasan, belaskasih). Atau 17 kali (17 pitulas, agar supaya Tuhan memberikan pitulungan dan kawelasan). Mandi lebih bagus dilakukan tidak di bawah atap rumah, langsung “beratap langit”, maksudnya adalah kita secara langsung menyatukan jiwa raga ke dalam gelombang harmonisasi alam semesta.
2. Topo Mbisu : Tirakat sepanjang bulan Suro berupa sikap selalu mengontrol ucapan mulut agar mengucapkan hal-hal yang baik saja. Sebab dalam bulan Suro yang penuh tirakat, doa-doa lebih mudah terwujud. Bahkan ucapan atau umpatan jelek yang keluar dari mulut dapat “numusi” atau terwujud. Sehingga ucapan buruk dapat benar-benar mencelakai diri sendiri maupun orang lain.
3. Ziarah : pada bulan Suro masyarakat Jawa lebih menggiatkan ziarah ke makam para leluhurnya masing-masing, atau makam para leluhur yang yang dahulu telah berjasa untuk kita, bagi masyarakat, bangsa, sehingga negeri nusantara ini ada. Selain mendoakan, ziarah sebagai tindakan konkrit generasi penerus untuk menghormati para leluhurnya (pepunden). Cara menghormati dan menghargai jasa para leluhur kita selain mendoakan, tentunya dengan merawat makam beliau. Sebab makam merupakan monumen sejarah yang dapat dijadikan media mengenang jasa-jasa para leluhur; mengenang dan mencontoh amal kebaikan beliau semasa hidupnya. Di samping itu kita akan selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Asal-usul kita ada di dunia ini adalah dari turunan beliau-beliau. Dan suatu saat nanti kita semua pasti akan berpulang ke haribaan Tuhan Yang maha Kuasa. Mengapa harus datang ke makam, tentunya atas kesadaran bahwa semua warisan para leluhur baik berupa ilmu, kebahagiannya, tanah kemerdekaan, maupun hartanya masih bisa dinikmati hingga sekarang, dan dinikmati oleh semua anak turunnya hingga kini. Apakah sebagai keturunannya kita masih tega hanya dengan mendoakan saja dari rumah ? Jika direnungkan secara mendalam menggunakan hati nurani, sikap demikian tidak lebih dari sekedar menuruti egoisme pribadi (hawa nafsu negatif) saja. Anak turun yang mau enaknya sendiri enggan datang susah-payah ke makam para leluhurnya, apalagi terpencil nun jauh harus pergi ke pelosok desa mendoakan dan merawat seonggok makam yang sudah tertimbun semak belukar. Betapa teganya hati kita, bahkan dengan mudahnya mencari-cari alasan pembenar untuk kemalasannya sendiri, bisa saja menggunakan alasan supaya menjauhi kemusyrikan. Padahal kita semua tahu, kemusyrikan bukan lah berhubungan dengan perbuatan, tetapi berkaitan erat dengan hati. Jangan-jangan sudah menjadi prinsip bawah sadar sebagian masyarakat kita, bahwa lebih enak menjadi orang bodoh, ketimbang menjadi orang winasis dan prayitna tetapi konsekuensinya tidak ringan.
4. Menyiapkan sesaji bunga setaman : dalam wadah berisi air bening. Diletakkan di dalam rumah. Selain sebagai sikap menghargai para leluhur yang njangkung dan njampangi anak turun, ritual ini penuh dengan makna yang dilambangkan dalam uborampe. Bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, kenanga. Masing-masing bunga memiliki makna doa-doa agung kepada Tuhan yang maha segalanya yang tersirat di dalamnya.
5. Jamasan pusaka : Tradisi ini dilakukan dalam rangka merawat atau memetri warisan dan kenang-kenangan dari para leluhurnya. Pusaka memiliki segudang makna di balik wujud fisik bendanya. Pusaka merupakan buah hasil karya cipta dalam bidang seni dan ketrampilan para leluhur kita di masa silam. Karya seni yang memiliki falsafah hidup yang begitu tinggi. Selain itu pusaka menjadi situs dan monumen sejarah, dan memudahkan kita simpati dan berimpati oleh kemajuan teknologi dan kearifan lokal para perintis bangsa terdahulu. Dari sikap menghargai lalu tumbuh menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus bangsa agar berbuat lebih baik dan maju di banding prestasi yang telah diraih para leluhur kita di masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para leluhurnya, para pahlawannya, dan para perintisnya. Karena mereka semua menjadi sumber inspirasi, motivasi dan tolak ukur atas apa yang telah kita perbuat dan kita gapai sekarang ini. Dengan demikian generasi penerus bangsa tidak akan mudah tercerabut (disembeded) dari “akarnya”. Tumbuh berkembang menjadi bangsa yang kokoh, tidak menjadi kacung dan bulan-bulanan budaya, tradisi, ekonomi, dan politik bangsa asing.
6. Larung sesaji : Larung sesaji merupakan ritual sedekah alam. Uborampe ritual disajikan (dilarung) ke laut, gunung, Darat atau ke tempat-tempat tertentu. Tradisi budaya ini yang paling riskan dianggap musyrik. Betapa tidak, jikalau kita hanya melihat apa yang tampak oleh mata saja tanpa ada pemahaman makna esensial dari ritual larung sesaji.
Berikut saya tulis sedikit tentang konsep pemahaman atau prinsip hati maupun pola fikir mengenai tradisi ini.
Pertama : dalam melaksanakan ritual hati kita tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat.
Kedua : adalah nilai filosofi, bahwa ritual larung sesaji merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia, sehingga untuk melangsungkan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita, sudah seharusnya kita menjaga dan melestarikan alam. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus.
Ketiga : selain kedua hal di atas, larung sesaji merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan bersifat kasat mata atau jagad fisik, maupun ghaib atau jagad metafisik. Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.
Leluhur majelis 7
Mahluk Pertama AMA(Awal-Menengah-Akhir/Mahluk Energi), Memiliki 7 anak didik Terpilih,Terpercaya dan SUPER SAKTI di zamannya, untuk menjaga dan memelihara Bumi beserta isi Kehidupan di dalamnya dengan nama Organisasi Majelis Tujuh. Tugas dan Fungsi Mereka didalamnya :
1. Eyang Langlang Buana yang Bertugas Menjaga Dunia/Bumi dari Pengaruh Luar tiap harinya,
2. Eyang Surya Nagara yang bertugas Memberikan Berbagai Ilmu
Pengetahuan dan ilham-ilham melalui insting Budaya, Agama, sain n Tekno dll.
3. Eyang Mangku Nagara yang Bertugas Mengangkat dan Menurunkan Para Pemimpin Negara atau apapun Kekuasaan di bumi ini melalui kekuatan-kekuatan yang ada di sekeliling targetnya.
4. Eyang Bahu Reksa yang Bertugas memeriksa setiap sudut-sudut ruang hidup di bumi ini alias ngariksakeun sakabeh nu aya dan Pembuat Bencana-bencana.
5. Eyang Jaya Perkosa yang Menjaga Kitab Tripitaka ( Kitab Sri(kitab ilmu ekploitasi bumi), Kitab Lungguh( kitab ilmu-ilmu pergaulan di bumi), Kitab Dunnya/dunia ( kitab ilmu jatidiri ketuhanan menyeluruh di bumi ini ).
6. Eyang Amarta Dipura yang Menjaga Sawarga Maniloka/Kesenangan-kesenangan,
7. Eyang Bagawat Gita yang bertugas menjaga Keadilan dan Keseimbangan di Bumi ini. Mereka Menguasai Hari Yang Berjumlah 7 di bumi ini yang keberadaannya diakui seluruh penduduk dunia tanpa sadar..!!! Itulah bukti kekuasaannya. Mereka kekal abadi dan bertempat tinggal di bawah laut selatan dibawah kekuasaan Kerajaan Kandang Weusi bernama Dayeuh Maneuh Karang Pamidangan. Mereka di sebut Eyang karena berwarga negara Sunda Land/ Sunda Besar di zamannya, dimana nama Eyang itu yang sangat di tuakan dan di hormati di ajaran Sunda Wiwaha. Semua Kehidupan di Bumi ini TENTUNYA dibawah Kekuasaan Exsekusi Mereka yang wujudnya di alam kita bisa siapa saja yang dikehendaki Mereka akan menemui semuanya/kita berupa wujud Energi dan bergurau dengan anda-anda di dalam hati anda masing-masing.
Senin, 01 November 2021
Solusi terkena pelet
Bila mana,, Ada seorang yg mengaku dirinya kena Ajian PELET..
Minggu, 31 Oktober 2021
BERDAMAI
Mengapa memilih dendam ?
Padahal ada pilihan untuk memaafkan.
Mengapa memilih benci ?
Padahal ada pilihan untuk mengampuni.
Pada akhirnya, memafkan tidak akan menguntungkan siapapun kecuali DIRI KITA SENDIRI Karena itu akan mengundang rejeki.
Dia yang telah menghantarkan rasa sakit pada hati ini tak akan berhenti dikejar rasa bersalah, meskipun kita telah memaafkannya.
Memaafkan berarti membebaskan diri kita dari beban yang tak seharusnya kita pikul. Memaafkan artinya merelakan.
Mengampuni, artinya kita memilih untuk menghamba, membiarkan diri sedikit demi sedikit meresapi sifat Tuhan Yang Maha Pengampun.
Dia telah terjadi. Dia adalah kenyataan.
Luka itu memang di sana, dan akan selamanya di sana. Tak bisa dihindari, tak bisa dihilangkan. Maka menolaknya artinya kita sedang menolak diri sendiri.
Memaafkan tak akan mengubah masa lalu. Tidak akan pernah. Tapi maaf dan ampunan akan memperluas kemungkinan-kemungkinan yang baik & yang dapat terjadi di masa depan.
Monggo sebelum memulai tidur
Tarik nafas dalam dalam
Pejamkan mata sambil membayangkan sosok yang pernah menyakiti kita..
Dan katakan padanya :
*Aku memaafkanmu
Terima kasih telah memberi ku pelajaran terbaik dalam hidupku
Karenamu aku belajar banyak hal,
Belajar melembutkan hati dengan pengampunan.
Aku belajar mencintaimu, seperti aku mencintai rasa sakitku.*
Biarkan energi pengampunan menjadi jalan datangnya maaf untuk hati kita yang masih tertambat di masa lalu.
Ingat sakit hati, benci itu menghambat rejeki.
Sabtu, 30 Oktober 2021
Kembali ke budaya nusantara
Lain Saudi, Lain Indonesia
Oleh: Sumanto Al Qurtuby (Pendiri Nusantara Institute & senior fellow Middle East Institute)
Saya perhatikan ada banyak perbedaan mendasar antara masyarakat Arab Saudi dengan Indonesia, khususnya umat Islam, dalam melihat, menyikapi, atau mempersepsikan tentang berbagai hal.
Misalnya, dalam hal pemakaian cadar bagi perempuan. Masyarakat Saudi menganggap cadar (khususnya niqab) sebagai bagian dari budaya mereka yang tidak ada sangkut-pautnya dengan ajaran keislaman dan kualitas keislaman dan keberislaman seseorang.
Karena itu mau tidak berniqab pun ya terserah saja. Yang berniqab pun tidak menghalangi mereka untuk bersosialisasi dengan siapa saja dan melakukan aktivitas apa saja termasuk nonton pilem di bioskop, nonton konser musik, dlsb. Dulu cukup banyak yang berniqab tapi kini mulai menyusut, khususnya di kota-kota, seiring dengan perubahan sosial-keagamaan yang terjadi disini.
Bagaimana dengan Indonesia? Anda tahu sendiri. Perempuan kalau sudah bercadar sepertinya merasa "paling Islamih dan paling salehah sedunia-akherat", terus bersikap eksklusif-tertutup alias tidak mau "srawungan" dengan yang lain karena mungkin berasumsi yang lain itu "tidak level" kualitas keislaman, keberislaman, & kesalehahannya. Dan seterusnya.
***
Perbedaan berikutnya tentang penyikapan terhadap bahasa Arab. Masyarakat Arab Saudi (dan juga masyarakat Arab lainnya, baik yang Arab Muslim, Kristen dan lainnya) menganggap bahasa Arab itu ya hanya sebuah bahasa biasa saja seperti bahasa-bahasa manusia lainnya. Mereka membedakan antara bahasa Arab dengan teks Al-Qur'an (yang memang memakai bahasa Arab klasik). Berbahasa Arab juga tidak membuat mereka merasa lebih relijiyes.
Kalau (sebagian) umat Islam Indonesia menganggap bahasa Arab itu seperti Al-Qur'an yang sakral dan suci nian. Karena itu bahasa Arab tidak boleh ditulis di sembarang tempat: toilet, bokong, sempak nanti bisa kena "ajab"😁.
Pula, sebagian umat Islam kalau sudah ngomong atau mengekspresikan sesuatu dengan menggunakan bahasa Arab (umi, abi, akhi, ukhti, ikhwan ikhwat, barakallah fi umrik, dlsb) merasa paling relijiyes sedunia-akherat kalah deh malaikat😁.
Padahal, masyarakat Saudi justru sedang giat-giatnya belajar bahasa Enggress supaya kelihatan "lebih intelek" qiqiqi. Bukan hanya Enggres, sekarang mereka juga belajar bahasa Mandarin biar dapat "cuan" lebih banyak lagi🤭
***
Hal lain yang juga sangat kontras adalah soal kata "syariat" atau "halal". Di Indonesia, sebagian umat Islam "demam" dengan kata "syariat". Karena itu, kalau bisa semua "disyariatkan", maksudnya diberi nama "syariat", supaya lebih Islamih & afdol😁.
Misalnya: bank syariat, perda syariat, perumahan syariat, kos-kosan syariat, wisata syariat, dlsb. Di Arab Saudi atau seantero Arab Timur Tengah, nyaris susah dijumpai ada nama sebuah bank, perumahan, atau lainnya memakai embel-embel kata "syariat". Disini juga tidak dijumpai ada kompleks perumahan yang khusus Muslim/Muslimah misalnya seperti di negara "Khilafah Endonesah"😁
Selain kata "syariat", kata "halal" juga booming di Endonesah. Dikit-dikit pakai label halal: wisata halal, kuliner halal, kulkas halal, panci halal, termos halal, kutang halal, cawet halal...Omaigattt🙊